» Read More...
Single, Taken, Jomblo, Jones
Sebuah Pulpen
» Read More...
Who Cares?
» Read More...
Bidadari yang Cantik Jelita
Desember 1, 2009 Muslim
Mereka sangat cangat cantik, memiliki suara-suara yang indah dan berakhlaq yang mulia. Mereka mengenakan pakaian yang paling bagus dan siapapun yang membicarakan diri mereka pasti akan digelitik kerinduan kepada mereka, seakan-akan dia sudah melihat secara langsung bidadari-bidadari itu. Siapapun ingin bertemu dengan mereka, ingin bersama mereka dan ingin hidup bersama mereka.
Semuanya itu adalah anugrah dari Alloh Subhanahu wa Ta’ala yang memberikan sifat-sifat terindah kepada mereka, yaitu bidadari-bidadari surga. Alloh Subhanahu wa Ta’ala mensifati wanita-wanita penghuni surga sebagai kawa’ib, jama’ dari ka’ib yang artinya gadis-gadis remaja. Yang memiliki bentuk tubuh yang merupakan bentuk wanita yang paling indah dan pas untuk gadis-gadis remaja. Alloh Subhanahu wa Ta’ala mensifati mereka sebagai bidadari-bidadari, karena kulit mereka yang indah dan putih bersih. Aisyah RadhiAllohu anha pernah berkata: “warna putih adalah separoh keindahan”
Bangsa Arab biasa menyanjung wanita dengan warna puith. Seorang penyair berkata:
Kulitnya putih bersih gairahnya tiada diragukan
laksana kijang Makkah yang tidak boleh dijadikan buruan
dia menjadi perhatian karena perkataannya lembut
Islam menghalanginya untuk mengucapkan perkataan jahat
Al-’In jama’ dari aina’, artinya wanita yang matanya lebar, yang berwarna hitam sangat hitam, dan yang berwarna puith sangat putih, bulu matanya panjang dan hitam. Alloh Subhanahu wa Ta’ala mensifati mereka sebagai bidadari-bidadari yang baik-baik lagi cantik, yaitu wanita yang menghimpun semua pesona lahir dan batin. Ciptaan dan akhlaknya sempurna, akhlaknya baik dan wajahnya cantk menawan. Alloh Subhanahu wa Ta’ala juga mensifati mereka sebagai wanita-wanita yang suci. Firman Alloh Subhanahu wa Ta’ala, yang artinya: “Dan untuk mereka di dalamnya ada istri-istri yang suci.” (QS: Al-Baqarah: 25)
Makna dari Firman diatas adalah mereka suci, tidak pernah haid, tidak buang air kecil dan besar serta tidak kentut. Mereka tidak diusik dengan urusan-urusan wanita yang menggangu seperti yang terjadi di dunia. Batin mereka juga suci, tidak cemburu, tidak menyakiti dan tidak jahat. Alloh Subhanahu wa Ta’ala juga mensifati mereka sebagai wanita-wanita yang dipingit di dalam rumah. Artinya mereka hanya berhias dan bersolek untuk suaminya. Bahkan mereka tidak pernah keluar dari rumah suaminya, tidak melayani kecuali suaminya. Alloh Subhanahu wa Ta’ala juga mensifati mereka sebagai wanita-wanita yang tidak liar pandangannya. Sifat ini lebih sempurna lagi. Oleh karena itu bidadari yang seperti ini diperuntukkan bagi para penghuni dua surga yang tertinggi. Diantara wanita memang ada yang tidak mau memandang suaminya dengan pandangan yang liar, karena cinta dan keridhaanyya, dan dia juga tidak mau memamndang kepada laki-laki selain suaminya, sebagaimana yang dikatakan dalam sebuah syair: Ku tak mau pandanganmu liar ke sekitar jika kau ingin cinta kita selalu mekar.
Di samping keadaan mereka yang dipingit di dalam rumah dan tidak liar pandangannnya, mereka juga merupakan wanita-wanita gadis, bergairah penuh cinta dan sebaya umurnya. Aisyah RadhiAllohu anha, pernah bertanya kepad Rasululloh Shallallahu’alaihi wasallam, yang artinya: “Wahai Rasululloh Shallallahu’alaihi wasallam, andaikata engkau melewati rerumputan yang pernah dijadikan tempat menggembala dan rerumputan yang belum pernah dijadikan tempat menggambala, maka dimanakah engkau menempatkan onta gembalamu?” Beliau menjawab,”Di tempat yang belum dijadikan tempat gembalaan.” (Ditakhrij Muslim) Dengan kata lain, beliau tidak pernah menikahi perawan selain dari Aisyah.
Rasululloh Shallallahu’alaihi wasallam bertanya kepada Jabir yang menikahi seorang janda, yang artinya: “Mengapa tidak engkau nikahi wanita gadis agar engkau bisa mencandainya dan ia pun mencandaimu?” (Diriwayatkan Asy-Syaikhany)
Sifat bidadari penghuni surga yang lain adalah Al-’Urub, jama’ dari al-arub, artinya mencerminkan rupa yang lemah lembut, sikap yang luwes, perlakuan yang baik terhadap suami dan penuh cinta. Ucapan, tingkah laku dan gerak-geriknya serba halus.
Al-Bukhary berkata di dalam Shahihnya, “Al-’Urub, jama’ dari tirbin. Jika dikatakan, Fulan tirbiyyun”, artinya Fulan berumur sebaya dengan orang yang dimaksudkan. Jadi mereka itu sebaya umurnya, sama-sama masih muda, tidak terlalu muda dan tidak pula tua. Usia mereka adalah usia remaja. Alloh Subhanahu wa Ta’ala menyerupakan mereka dengan mutiara yang terpendam, dengan telur yang terjaga, seperti Yaqut dan Marjan. Mutiara diambil kebeningan, kecemerlangan dan kehalusan sentuhannya. Putih telor yang tersembunyi adalah sesuatu yang tidak pernah dipegang oleh tangan manusia, berwarna puith kekuning-kuningan. Berbeda dengan putih murni yang tidak ada warna kuning atau merehnya. Yaqut dan Marjan diambil keindahan warnanya dan kebeningannya.
Semoga para wanita-wanita di dunia ini mampu memperoleh kedudukan untuk menjadi Bidadari-Bidadari yang lebih mulia dari Bidadari-Bidadari yang tidak pernah hidup di dunia ini. Wallahu A’lam
(Sumber Rujukan: Raudhah Al-Muhibbin wa Nuzhah Al-Musytaqin [Taman Orang-orang Jatuh Cinta dan Memendam Rindu], karya Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah)
» Read More...
Kasih Ibu
Sabtu kemarin, 23 Februari aku pulang ke rumah setelah sekian lama merantau di Yogyakarta untuk menempuh studiku. Kala itu aku pulang bersama salah satu temanku. Kami berdua jarang bisa pulang, tapi kali ini dengan nekad kami putuskan untuk pulang, sedangkan hari minggu harus berangkat lagi.
Saat itu, kami tengah sampai di terminal Secang, Magelang. Hujan turun kala itu, beruntung sekali kami sudah ada di dalam bus.
Seperti biasa, pemandangan sekitar selalu membuatku tertarik. Pemandangan yang biasa tapi sebenarnya itu sangat indah menurutku. Ketika bus berhenti cukup lama -berharap akan bertambah banyak penumpang yang akan datang-, ku lempar pandangan keluar jendela. Kendaraan berlalu lalang, pedagang kaki lima bersemangat menjajakan dagangannya, orang-orang sibuk dengan kepentingannya disana. Lalu mataku tertarik dengan pemandangan yang membuatku tersenyum saat itu.
Temanku bertanya padaku bertanya padaku ketika melihatku tersenyum.
“Kenapa?”.
“Lihat ibu yang bersama anaknya dan membawa payung itu”, ku tunjukkan dengan jariku.
“Ya, lalu kenapa?”. Agaknya temanku tidak tahu apa yang ada dalam pikiranku. Lalu aku tertawa pelan.
“Bukan apa-apa. Kupikir itu bisa menjadi sebuah cerita”, jawabku. Sejak itu dia tidak bertanya lagi. Sepertinya dia tahu bahwa aku tidak mungkin menceritakannya.
Memang aku tidak tertarik untuk bercerita lebih lanjut, karena kupikir itu tergantung seperti apa dia melihat kejian itu. Dimana seorang ibu berusaha melindungi putranya yang kurang lebih berusia 10an tahun dengan payung dari hujan yang sebenarnya tidak terlalu deras. Dia condongkang payung itu untuk anaknya, melindungi seluruh bagian tubuh anaknya sementara sebagian tubuhnya basah meskipun tidak terlalu basah.
Benar-benar membuatku semakin rindu pada ibuku. Betapa pengorbanan ibu memang tak pernah kita sadari. Hal kecil yang aku lihat itu benar-benar membuatku makin jatuh sayang pada ibuku. Aku tak tahu bagaimana lagi menggambarkan betapa besar kasih seorang ibu. Berusaha melakukan hal yang terbaik demi anaknya.
Yang membuatku menyesal kala itu, kenapa aku tidak mendokumentasikan foto itu agar aku bisa share apa yang aku lihat kala itu. Tapi mungkin hanya dengan kata-kata ini, dapat menggambarkan apa yang aku lihat dan aku rasakan saat itu. Dan kuharap temanku juga membacanya.
Sekaligus aku meminta maaf karena aku tak bernafsu untuk bercerita saat itu. Semoga artikel ini menebusnya. :D
Sekian..
_K.A_
» Read More...
Moral Media
Baru kemarin saya pulang ke rumah. Enaknya di rumah tu bisa males-malesan, nonton tivi, tiduran sepuasnya dan lain-lain. Kala itu saya ingin sekali menonton tivi karena ketika saya sedang kuliah, saya tidak bisa menonton tivi. Jam menjelang siang, kalau tidak salah ingat sekitar jam 10an. Tergugah rasanya ingin menonton film ftv kesukaan ketika SMA dahulu. Kemudian aku mulai menikmati tayangannya.
Tapi kok lama-lama rasanya risih. Ketika itu, ceritanya cerita anak SMA yang sedang jatuh cinta. Kemudian patah hati karena cintanya bertepuk sebelah tangan, akhirnya selama beberapa hari tidak nafsu makan dan mengurung diri di kamar. Kemudian ternyata mereka berdua salahpaham dan di akhir cerita mereka kembali bersama alias pacaran, yang ditutup dengan adegan berpelukan.
Waaah langsung saya mengingat kasus terbaru di negeri ini. anak SMP melakukan mesum di ruang kelas dan dilihat oleh teman-temannya. Ah, pantas saja.
Apa yang terjadi diantara masyarakat, anak yang mesum, kasus bunuh diri karena putus cinta, pemerkosaan yang yang terjadi dimana-mana, dan masih banyak lagi. Bukan hal baru tentunya bagi kita, sudah tak asing lagi. Analisisnya sering saya mendengar bahwa hal ini karena guru yang kurang menjaga murid-muridnya, pemerintah yang kurang tegas dalam memberikan sanksi baik untuk guru maupun pelaku, orangtua yang kurang bisa menjaga putra-putrinya, dan lain-lain. Seolah lupa bahwa ada beberapa peran yang terlupakan disini.
Hei, darimana mereka tahu hal-hal seperti itu? Kenapa mereka berani melakukan hal-hal seperti itu? Banyak kemungkinan yang bisa terjadi. Dan tidak dapat dipungkiri bahwa salah satu penyebabnya adalah maraknya media yang menyajikan hal-hal seperti ini dengan gamblang, dan kemudian disajikan dengan santai dalam kehidupan sehari-hari sehingga seolah menjadi suatu hal yang biasa. Jadi kalau anak-anak berani melakukan hal demikian karena mereka biasa melihat di media dengan gamblang sehingga dianggapnya sebagai hal yang sudah biasa. Ini yang bahaya! Padahal jarang anak muda yang bisa menyaring baik apa yang dilihatnya.
Banyak dalam film-film yang ditampilkan oleh media menyajikan bahwa orang yang sudah pacaran itu sah-sah saja untuk berpelukan. Hm... kalau ini tetap beredar di masyarakat, ya jangan salahkan anak-anak juga jika mereka meniru karena mereka sudah melihat sebuah contoh dan anak-anak itu memang memiliki sifat untuk mencari tahu dan mencoba-coba. Kemudian cara berpakaian di sekolah yang seperti itu, wajar dong kalau anak-anak kemudian mengikuti. Karena sudah dicontohkan langsung di tivi. Kemudian adegan di kelas, bukannya memperlihatkan proses belajar yang menyenangkan dan membahas beberapa mata pelajaran (misalnya), tetapi diceritakan bahwa di dalam kelas mereka hanya melamun, ketiduran, dan lain-lain. Ya kalau anak-anak kemudian mencontoh, jangan sepenuhnya salahkan anak-anak. Kemudian, dikit-dikit nangis, nggak mau makan karena patah hati, ya maklum kalau anak-anak tiap keliatan loyo selalu alasannya patah hati.
Kapan media menyajikan film bagi anak-anak, generasi muda, tentang rasa nasionalisme? Tanpa galau yang lebay dan tanpa memperlihatkan adegan berpelukan meskipun mereka berpacaran. Kapan media menyajikan film yang membuat mereka lebih berpikir apa itu demokrasi (misalnya), bagaimana menjadi enterpreneur yang sukses dan bagaimana menjadi orang yang berhasil mencapai cita-citanya dengan usaha keras?
Memang ada, dan sudah banyak film yang seperti ini. tapi film yang marak di tayangkan tiap hari di media, belum film yang seperti ini. menceritakan sebuah perjuangan untuk meraih mimpi, memperjuangkan bangsa, nasionalisme yang terus dijaga, tapi ini bukan tayangan yang menjadi makanan sehari-hari. Ah, mungkin belum ^_^
» Read More...
About the Live
Dunia seakan menyapa. Kurentangkan tangan dan ku hirup udara. Sejuk, segar. Kututup mata perlahan dan kuarahkan wajah menantang matahari. Ku hirup lagi udara siang dan tersimpul sebuah senyum ketika ku buka lagi mataku.
“Cepat ambil tasmu. Kita harus cepat agar tidak terlambat”, sebuah suara menghilangkan lamunanku dan dengan cepat aku menoleh pada seorang pria jakung yang sudah siap dengan tasnya. Segera ku ambil tas dan siap pergi meninggalkan desa nan asri.
Kembang Sari. Desa asri ini menjadi tempat kunjunganku bersama teman sejawatku dalam rangka survey tempat untuk sebuah acara kampus yang kami agendakan. Namun kemudian kami terpesona oleh keindahan desa yang belum begitu tersentuh oleh teknologi dan kejamnya dunia globalisasi. Desa dengan rumah-rumah sederhana namun sesuai fungsinya yaitu sebagai tempat melaupkan rindu dan harapan, juga tidak terlihat satupun gedung pencakar langit yang menutupi indahnya alam.
Seno, itulah namaku. Ayahku meninggal ketika aku duduk dibangku kelas 6, sedangkan ibuku... dia membanting tulang untuk pekerjaan apapun agar bisa menghidupiku. Syukurlah ada Mbak Zahro yang mau membantu ibuku. Akhirnya biaya sekolahku ditanggung olehnya. Tadinya aku masih belum terlalu mengerti dengan hal-hal itu, yang ada dalam kepalaku hanyalah bersenda gurau bersama teman-teman. Lambat laun aku mengerti, otakku mulai terisi hal-hal baru dan kenyataan-kenyataan tentang hidupku, juga tentang kehidupan orang-orang disekitarku. Sejak saat itu kekagumanku pada Mbak Zahro mulai muncul.
Kagum, bangga, dan ada hasrat untuk menjadikan diriku sendiri seperti dia. Atau bahkan melebihinya. Ketika aku kelas 6 SD, mbak Zahro sudah kuliah menempati semester III. Hebatnya, dia menyekolahkanku dan memenuhi kebutuhan sehari-hariku dengan uang beasiswanya. Mungkin karena memang dia anak tunggal sehingga menganggap aku sebagai adiknya, atau karena memang hatinya yang penuh cahaya sehingga melihat bahwa saudara dekatnya sedang kesusahan. Aku tak tahu, aku juga tidak peduli. Karena aku yakin Mbak Zahro ikhlas membantuku dan ibuku.
Hari ini aku bersama Bima, temanku melakukan sebuah survey untuk kegiatan kampus. Aku menjadi menjadi panitia dalam sebuah acara training untuk adik-adik angkatanku. Dan kami bertugas untuk mencari lokasi yang tepat. Dan tentu setelah melihat keadaan ini, kami sepakat bahwa desa ini sepakat untuk menjadi tempat belajar kami.
Keputusan itu sudah kami rasakan sejak pertama kali kami mulai melihat panorama disini. Hijau, jernih, segar, panas yang tidak menimbulkan gerah, ah kesan yang indah. Kemudian bertambah lagi kesan itu ketika kami mulai melangkah lagi menggunakan motorku. Jalannya halus meskipun tanpa aspal. Ku lihat orang-orang di depan. Saling bercengkrama, tegur sapa, itu memang suasana desa yang sangat ramah. Belum lagi gaya-gaya rumah kuno dari kayu yang konon kuno juga. Itu memang bahasa yang terdengar kasar, tapi kuno lebih tepat untuk menggambarkan nuansa ini. Nuansa kuno yang begitu dirindukan.
» Read More...